Saat Imlek dan Ramadan Bertemu di Ruang Kebangsaan

  • Whatsapp
Imlek Ramadan
Ilustrasi
Pakons Hotel

INFO KALIMANTAN – Tahun ini, kalender mempertemukan dua perayaan penting dalam waktu yang berdekatan. Hari Raya Imlek 2577 hadir hampir bersamaan dengan awal bulan suci Ramadan 1477 H. Perjumpaan ini bukan sekadar soal tanggal, melainkan gambaran tentang bagaimana keberagaman hidup berdampingan dalam ruang kebangsaan Indonesia.

Imlek, yang selama puluhan tahun pernah berada di ruang terbatas, kini dirayakan secara terbuka. Lampion menghiasi ruang publik, barongsai tampil di pusat-pusat keramaian, dan ucapan selamat mengalir tanpa ragu. Pada saat yang sama, umat Islam bersiap menyambut Ramadan dengan menata niat, membersihkan diri, dan mempersiapkan ruang-ruang ibadah.

Read More

Dua suasana berbeda itu hadir bersamaan, membentuk lanskap sosial yang unik dan penuh makna.

Ruang Publik sebagai Cermin Kebersamaan

Di berbagai kota, ruang publik menjadi cermin perjumpaan tersebut. Dekorasi Imlek berdampingan dengan spanduk penawaran takjil. Di pasar, kue keranjang dijajakan tak jauh dari lapak kurma dan kolak. Pemandangan ini menghadirkan keseharian yang akrab, tanpa sekat yang kaku.

Perjumpaan Imlek dan Ramadan tidak selalu hadir dalam perayaan besar. Ia justru tampak dalam sikap-sikap kecil: penyesuaian waktu kegiatan, saling menjaga ketenangan menjelang waktu ibadah, serta kesediaan untuk memahami ritme masing-masing. Hal-hal sederhana ini kerap luput dari perhatian, tetapi menjadi penopang harmoni sosial.

Nilai yang Berjumpa

Imlek membawa pesan tentang harapan baru, kerja keras, dan penghormatan kepada keluarga. Ramadan mengajarkan pengendalian diri, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut, meski lahir dari tradisi berbeda, bertemu pada satu tujuan: membangun kehidupan yang lebih berimbang dan bermakna.

Perjumpaan dua perayaan ini mengingatkan bahwa keberagaman bukan sesuatu yang statis. Ia terus tumbuh dan membutuhkan perawatan. Indonesia, dengan segala perbedaannya, belajar menemukan keseimbangan melalui pengalaman hidup bersama.

Ketika lampion masih menyala dan persiapan Ramadan mulai terasa, ruang kebangsaan kembali diuji. Bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirawat bersama, agar perbedaan tetap menjadi sumber kekuatan, bukan jarak pemisah.(red)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *